T
![]() |
| Teater Flamboyant Mandar (Foto: kompasiana) |
Andhika Mappasomba, dari pihak penyelenggara menjelaskan,
"Mohon dukungan teman-teman dan semua pihak untuk kegiatan budaya ini," ujarnya di Bulukumba, Minggu (19/2/2012).Pentas bersama ini sebelumnya juga digelar pada tahun awal 2011 di Mandar Sulbar saat Laskar Kelor band tampil sebagai bintang tamu di sebuag even budaya di Mandar Sulbar.
Berikut sekilas profil Teater Flamboyant Mandar Sulbar yang dikutip dari artikel Hamzah Ismail di kompasiana.
.
Profil Teater Flamboyant Mandar
Didirikan Pada : Tanggal 5 - 9 - 1983
Diresmikan Pada : Tanggal 15 - 9 - 1984
Visi : Mewujudkan Komunitas Kesenian Berbasis Kemasyarakatan Nasional
Alamat : Jln. Poros Polewali Mandar - Majene No. 35
Kelurahan Tinambung Kecamatan Tinambung Kab. Polewali Mandar
Propinsi Sulawesi Barat, 91354
Situs/WebBlog : mandarmenulis.blogspot.com, www.suaramandar.com.
Sebagai komunitas, Teater Flamboyant
Mandar telah ada sejak tahun 80-an di suatu wilayah nun jauh dari
pusat keriuhan dan perkembangan jagat seni perteateran nasional.
Tepatnya di sebuah kota kecil kecamatan yang bernama Tinambung.
Tinambung, selain dibelah oleh
aliran sungai Mandar, ia juga berada tepat di himpitan antara areal
perkebunan di kaki bukit, juga berada tidak begitu jauh dari pesisir
pantai Teluk Mandar. Pendapatan asli warga masyarakat Tinambung lebih
banyak bertumpu pada hasil perkebunan, hasil laut, dagang dan sebagaian
lainnya adalah pegawai negeri sipil.
Awal lahirnya Teater Flamboyant
Mandar tidak bisa dilepaskan dari sentuhan tangan dingin Almarhum Drs.
Alisjahbana. Beliau lahir di desa Salarri (saat ini termasuk dalam
wilayah administratif Kec. Limboro Kab. Polewali Mandar) pada 27
Desember 1951 dan meninggal dunia pada 31 Agustus 2005 di Yogyakarta.
Sekitar tahun 70-an, beliau melanjutkan studi pada salah satu perguruan
tinggi di kota Gudeg Yogyakarta. Dari kota Gudeg inilah, beliau
kemudian banyak bersinggungan dengan seniman Malioboro. Beberapa
diantaranya adalah Emha Ainun Najib (Cak Nun) dan Eko Tunas yang aktif
dalam Persada Studi Klub (PSK) dibawah asuhan Umbu Landu Paranggi
(Presiden Penyair Malioboro) kala itu.
Suatu ketika, saat mudik liburan ke
tanah leluhurnya di Tinambung, Bung Ali (panggilan akrab beliau)
menemukan para pemuda yang hanya menandaskan hari-harinya dengan
bertanggang dan main gitar, berjudi, minum tuak dan beragam perilaku
khas gerombolan anak kampung yang sebagian masih sekolah dan sebagian
lagi lainnya sudah putus sekolah. Bung Ali kemudian bersahabat dengan
mereka. Dalam keakraban tersebut, pelan-pelan beliau membagi pengalaman
serta memberi dorongan dan semangat hidup yang berkesadaran sebagai
bagian dari sebuah bangsa yang bernama Indonesia untuk berperan serta
dalam upaya pembangunan manusia seutuhnya. Para pemuda kampung tersebut
kemudian diikat dalam sebuah tali tasbih berideologi kemanusiaan yang
menjadikan seni sebagai medium untuk mengenali diri dan lingkungan.
Belakangan, kelompok pemuda yang telah tergerak nuraninya untuk berbuat
yang terbaik bagi diri dan masyarakat tersebut memproklamirkan diri
sebagai Teater Flamboyant Mandar.
Sebagai arena anak kampung,
keberadaan Teater Flamboyant Mandar sanggup mengambil alih kesibukan
dan perhatian para pemuda tadi untuk lebih kreatif belajar
mengembangkan kecakapan hidup dalam bidang seni dan budaya.
Seiring perputaran jaman, Teater
Flamboyant Mandar tumbuh dan berkembang tidak hanya sebagai komunitas
kesenian yang melulu berteater, dan melakukan persinggungan lewat
usungan karya seni ke pentas lokal, regional bahkan nasional. Tetapi,
belakangan ia muncul menjadi semacam agen perubahan (agent of change),
dan tampil sebagai penafsir dan pelakon nilai-nilai budaya (kearifan
budaya lokal) masyarakat Mandar.
Dalam perjalanannya, Teater
Flamboyant Mandar yang telah mengalami proses re-generasi beberapa
kali dan telah menjalin hubungan dengan komunitas serupa di berbagai
penjuru nusantara, beberapa diantaranya adalah : Bantaya Palu, Yayasan
Kelola Solo, Komunitas Musik Puisi Se- Nusantara via FMPI 2003 dan Arts
Network Asia (ANA) yang berkantor di Singapura, serta beragam
komunitas lainnya.
Pertautan yang mesra dengan
berbagai komunitas tersebut lalu memberi semacam sumbangan khazanah
ilmu bagi Teater Flamboyant Mandar dalam hal manajemen kerja kebudayaan
dan kesenian yang ilmiah dan modern, tanpa tercerabut dari akar
kultural dan sejarahnya sebagai teater rakyat.
Sampai hari ini, Teater Flamboyant
Mandar telah melahirkan beragam arus pemikiran yang terkadang memilih
menjadi oposan dan sedikit radikal humanis dalam hal kerja-kerja
kebudayaan. Terutama terlihat dari persinggungannya dengan beragam
kepentingan politik yang terkadang abai terhadap hati nurani. Untuk
wilayah satu ini, Teater Flamboyant Mandar sebagai teater rakyat,
justru lebih memilih netral tanpa keberpihakan (independent).
Hingga kini, Teater Flamboyant
Mandar lebih memilih hidup inklusif ditengah-tengah masyarakat, seraya
menggenggam tekad perjuangan kebudayaan dan kemanusiaan. Sambil tetap
berupaya melakukan penambalan-penambalan kegelisahan di tingkat pemula
(remaja) dengan menyulut proses kerja-kerja kreatif dan metode arus
lalu lintas pemikiran kebudayaan di tingkat yang lebih dewasa. Pendek
kata, Teater Flamboyant Mandar yang memiliki anggota terdaftar sekitar
100-an orang ini tetap lahir dan berada dalam masyarakatnya. Bersama,
bergenggaman dalam membangun kebudayaan yang lebih berpihak kepada
kemanusiaan untuk mengawal peradaban ke arah yang dicita-citakan.
Masing-masing anggota Teater Flamboyant Mandar mengambil peran sebagai
masyarakat sebagaimana umumnya masyarakat. Mereka bersahaja dan tetap
melakoni aktifitas sehari-harinya sebagai petani, pedagang, pelajar,
mahasiswa, pengangguran bahkan pegawai negeri sipil.
Bagi Teater Flamboyant Mandar,
kesenian tidak lantas dipahami sebagai seni untuk seni sebagaimana
adagium yang dilontarkan oleh pekerja seni lainnya. Tetapi, kesenian
bagi Teater Flamboyant Mandar adalah sebuah upaya untuk melembagakan
manusia dalam tatanan estetika kemanusiaan yang berbudaya untuk
memahami teks dan konteks kebudayaan, yang dapat diejawantahkan dalam
kehidupan bermasyarakat.
Alhasil, Teater Flamboyant Mandar
kini telah menjadi semacam teman bagi masyarakat dalam pemetaan arus
berpikir, meretas berbagai persoalan kemasyarakatan yang tak pupus
mengitari keseharian. Hingga kepada proses pendampingan, utamanya
penyelamatan generasi muda dari agresifitas budaya luar yang tidak
sesuai dengan kearifan lokal Mandar dan tuntunan agama.
Dalam beragam lontaran statemen dan
kerja kreatifnya, Teater Flamboyant Mandar selalu memilih untuk hadir
sebagai komunitas yang lebih mengedepankan kebersamaan dan konsep
keilahiyaan, kemanusiaan dan kebudayaan yang berbudaya.
II. Jumlah Anggota dan Susunan Pengurus Teater Flamboyant Mandar 2009 - 2014
Total Jumlah Anggota Teater
Flamboyant Mandar yang aktif dalam beragam genre seni adalah sekitar 50
orang, dan tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti Bali,
Bangka Belitung, Jakarta, Jogjakarta, Balikpapan, Merauke, dan Palu.
Untuk setiap pementasan karya seni teater, minimal 20 hingga 25 orang
yang dibutuhkan, tergantung konteks dan ruang pertunjukannya.
Secara rinci, susunan pengurus Teater Flamboyant Mandar saat ini adalah:
Dewan Pembina :
Sukhri Dahlan
Amru Sa’dong, S.Pd
Hamzah Ismail, S.Pd
Haidir Djamal, S.Sos
Bahmid Djamal, S.Pd
Asmadi Alimuddin, S.Sn
Muhammad Syariat Tajuddin, SH
Rahman Karim
Latappa Latief
Djunaedi latief
Abu Bakar
H. Abdul Manaf SB
Tammalele
Aziz Wenazs
Adinata Djamal
H. Arif Arifin
Musjad Saenong
Pengurus Harian :
Ketua : Rahman Solaaz
Wakil Ketua : Alif Tj
Sekretaris : Abed El-Mubarak
Wakil Sekretaris : Aldin
Koord. Bidang Musik : Ramli Rusli
Koord. Bidang Teater : Suardi Rusli
Koord. Bidang Sastra : Rosmadiana Tammalele
Koord. Bidang Pengajian : Muhammad Aslam
Koord. Bidang Multimedia : Zulkifli Siddik
Alamat Sekretariat
Teater Flamboyant Mandar beralamat di
Jl. Poros Polewali Mandar - Majene, No.35 Kelurahan Tinambung -
Kecamatan Tinambung Kab. Polewali Mandar Provinsi Sulawesi Barat Kode
Pos : 91354. Contact Person : Rahman (081355252356) - Mubarak
(085255859795) - Hamzah Ismail (081342357873) Email : teaterflamboyant@gmail.com - rahmanbaaz@gmail.com - hamzahismail07@yahoo.co.id. Rekening Bank Rakyat Indonesia Cabang/Unit Tinambung
Kegiatan Yang Pernah Diikuti dan Dilakukan :
Pementasan :
1. Musik Puisi (1984) di Rea Kab. Polewali Mamasa (sekarang Kab. Polewali Mandar).
2. Pentas Teater Tradisional “Pencari Rezeki” (1985) di Polmas.
3. Pentas Teater “Perahu Nuh” (1985) di Polmas
4. Pentas Teater bersama Teater PETA (Asdrafi), Yogyakarta (1986) di Tinambung.
5. Pentas Drama “Terjebak” (1987) di Polmas
6. Pentas Teater “Cahaya Maha Cahaya” (1987) di Polmas dan Pare-Pare.
7. Pentas Teater Keliling “Lautan Jilbab” (1988) di Sulsel.
8. Pertunjukan Rakyat “Kerikil Tajam” (1990) di Makassar.
9. Pertunjukan Rakyat “Dibalik Batu” (1992) di Pinrang.
10. Pertunjukan Rakyat “Kaca Mata” (1993) di Polmas.
11. Pertunjukan Rakyat “Kauseng” (1995) di Makassar.
12. Pentas Teater “Koa Koayang” (1997) di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
13. Musik Puisi(1997) di Jombang.
14.
Pentas Teater “Koa Koayang” (1999) di Pengajian PadhangMbulan Sumobito
Jombang, Pesantren Gontor, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
15. Pentas Teater “Kauseng” (2000) di Palu Indonesia Dance Forum.
16. Pentas Musik Puisi di Festival Musik Puisi Indonesia (2003) Yogyakarta
17. Pentas ” B o m ” Pestival Teater Sulsel (2003) Soppeng
18. Pestival Seni Musik Tradisional Mandar (2003) Kerjasama BKKI Sulsel di Tinambung Polmas.
19. Pameran Seni Fhoto dan Lukis “Katakan Cinta Dengan Karya” (2003) Di Tinambung Polmas.
20. Kirab Seni Keliling Sulbar “Belajar Mengeja Hening” (2004) Polmas, Majene dan Mamuju.
21. Fasilitator Malam Pentas Seni pada Acara Silaturrahmi Kebudayaan Mandar se- Sulbar (2005) Polewali Polmas.
22. Pentas Musik Puisi di Festival Musik Puisi Indonesia (2005) Yogyakarta
23. Malam Renungan dan Tahlil buat Pejuang Kebudayaan Mandar in Memoriam Bung Ali Syahbana (2005) di Tinambung.
24. Forum Fula Dongga : Pentas Seni Pertunjukan Musik Puisi Kolaborasi Emha Ainun Nadjib (2005) Palu Sulteng
25. Temu Teater KATIMURI IV (kawasan timur Indonsia, 2006) Taman Budaya Samarinda Kalimantan Timur
26. Pentas Seni Pertunjukan Perhimpunan Wartawan Muslim Indonesia Kolaborasi Emha Ainun Nadjib (2006) Mamuju
27. Musik Puisi dan Shalawatan Peresmian Perpustakaan Daerah Kabupaten Majene (2006) di Majene
28. Musik Puisi dan Shalawatan Malam Reuni SMA 1 Majene (2006) di Assamalewuang di Majene
29. Pentas Musik Puisi Malam Renungan HIV Aids Kerjasama Unicef dan Mandar Sehat (2006) Lemcadika Polewali
30. Sastra Kepulauan dan Kampung Budaya VII di Barru Sul-Sel
31. Haflah Maiyah se-Nusantara 2009 di desa Sumobito, Jombang Jawa Timur
32. Pentas Keliling Teater, Musik dan Puisi bertajuk “Seni Untuk Rakyat” di kabupaten Mamuju dan Majene Sulawesi Barat 2010
33. Peserta Festival Teater Remaja Nasional (Gedung Sasono Langen Budoyo-TMII Jakarta) tanggal 1-4 November 2010.
34. Peserta Kompetisi Teater Indonesia (A Tribute To WS. Rendra), Taman Budaya Provinsi Jawa Timur 1-8 November 2010
35.
Silaturrahmi Budaya Mandar-Kajang (Teater Flamboyant Mandar-Laskar
Kelor Bulukumba), 15 Februari 2011, Gedung Mita Tinambung
36. Launching Antologi Puisi “Potret Hitam Putih” karya Darwin Badaruddin, Gedung PKK Polewali, Sabtu 26 Februari 2011
37.
Road Show bertajuk “Perjalanan Sunyi dan Sujud Sosial” -Pentas Musik
Puisi dan Workshop, Lembang-lembang, Sabtu 26 Maret 2011, Lampa
Kecamatan Mapilli tanggal 27 Maret 2011, dan di beberapa tempat yang
direncanakan (tentatif) dalam tahun 2011.
38. Pentas Musik Puisi dalam kegiatan Reuni Akbar Alumni SMA 2 Majene (Angkatan 1985-2010), Lembang Majene, 09 April 2011.
Penguatan dan Pemberdayaan
1. Workshop Teater dan Tari bersama Drs. Halilintar Latief dan Dra. Andi Fadlia (keduanya dosen UNM Makassar), 1986.
2. Workshop Teater dan Musik bersama Novi Budianto (Personil Musik Kiyai Kanjeng), 1996.
3.
Seminar Nasional “Kebebasan Berekspresi”, menghadirkan pembicara
utama; Emha Ainun Nadjib dan Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH (1997).
4. Workshof Penyutradaraan di Taman Budaya Solo (1999).
5. Pengajian Bersama Emha Ainun Najib dalam tajuk “Papperandang Ate” (beberapa kali di Mandar Sulsel).
6. Talk Show Diskusi Bersama 7 Anggota Dewan Terpilih Dapil 4 (2004).
7.
Pelangi Budaya “Pengajian dan Diskusi Warga” (digelar satu kali satu
bulan di setiap awal bulan), belakangan hanya mampu dilaksanakan sekali
setahun dalam betuk pementasan dengan melibatkan komunitas lain di
Sulbar dan Luar Sulbar.
8. Penerbitan Jurnal Seni Budaya Mandar (Tiap Tiga Bulan).
9. Workhsof Teater dan penulisan (Sekali Satu Bulan).
10. Komunitas Shalawatan (Menerima Undangan Pentas Paket Seni Pertunjukan dan Tembang Religius).
11. Bank Naskah Teater (Siap diekplorasi).
12. Bank Musik Puisi (Siap dieksplorasi).
13.
Puisi Lima Penyair, 2009, (Draft Buku Antologi Puisi, siap untuk
diterbitkan)… jika ada pihak yang berkenan menjadi sponsor.
source: www.rca-fm.com


1 apresiator:
jadi inget teater pas jaman sekolah dl
Poskan Komentar