News Update :

Buku Inspiring Bulukumba Lahir dari Sebuah Metamorfosa

Written By Ivan Kavalera on Minggu, 16 Maret 2014 | 11:08:00 PM



     

Sekali waktu, termInspiring Bulukumba” menjalari benak saya pada awal tahun 2011. Sebuah realitas, tidak terdapat satupun referensi teks tentang biografi tokoh-tokoh penting di Bulukumba.
     Kerisauan pun berlanjut dan memunculkan ide InspiringBulukumba” harus menjadi sebuah program talkshow di Radio Cempaka Asri (RCA) 102,5 FM Bulukumba. Dengan bantuan teman-teman penyiar, dan saya dipercayakan sebagai host, program talkshow  tersebut berhasil menghadirkan belasan tokoh Bulukumba secara berkala dengan konsep utama berupa pemaparan kisah hidup mereka yang inspiratif. Respon pendengar sangat bagus dan ditandai dengan rating tinggi. Stagnasi yang dialami program tersebut di tahun 2013 lantaran kebijakan manajemen ternyata mengawali ide baru. “Inspiring Bulukumba” harus bermetamorfosa menjadi sebuah buku.
   Asumsi awal saya, kumpulan rekam jejak ini bukan semacam rujukan final yang permanen. Buku ini masih membutuhkan penyempurnaan dari siapapun di waktu-waktu  yang lain. Masih banyak tokoh lainnya yang belum sempat dimasukkan ke dalam daftar, di antaranya Dharsyaf Pabottingi, Prof. Dr. Kulla Lagousi dan Sulaiman Mappiasse. Namun sebagai langkah kecil, semestinya dapat membuka mata kita bahwa Bulukumba adalah juga gudangnya orang-orang yang luar biasa. Bahkan saya sempat membayangkan Inspiring Bulukumba II, dan seterusnya.
     Sebuah hal unik terjadi, sebagian besar tokoh dalam buku ini ternyata datang dari ‘wilayah literasi’ yang semakin menguatkan asumsi bahwa sesungguhnya Bulukumba merupakan gudang literasi.
      Alhamdulillah, Allah mengizinkan buku ini sebagai buku saya yang keempat. Buku pertama: Rumah Putih; Antologi Puisi Serumah. Buku kedua: bersama 88 penulis lainnya dalam "Ahyar Anwar Yang Menidurkan dan Membangunkan Cinta: Sebuah Obituari." Buku ketiga: bersama puluhan cerpenis lainnya, cerpen saya "Perempuan Bertanduk Api" dimuat dalam buku antologi cerpen "Love Never Fails".
     Bismillahirrahmanirrahim. Melalui buku saya yang keempat ini, untuk pertama kali di wilayah literasi, saya  menggunakan nama asli: Alfian Nawawi. (*)

Bejana Teks Keluarga Kami dalam Rumah Putih, Antologi Puisi Serumah

Written By Ivan Kavalera on Sabtu, 14 Desember 2013 | 2:09:00 PM


Sebuah kesyukuran besar. Setiap peristiwa literasi adalah juga bagian penting dari sejarah. Termasuk peristiwa unik ini yang pertama kali dilakukan di dunia khususnya di jagad sastra tanah air. Satu keluarga, tujuh penulis dari tiga generasi dalam satu rumah akhirnya diizinkan Allah SWT untuk merampungkan sebuah buku antologi puisi "Rumah Putih, Antologi Puisi Serumah.” Penerbit Ombak Jogjakarta.
Tujuh penulis Rumah Putih terdiri dari: Saya bersama istri saya, Israwaty Samad, tiga adik ipar: Fatimah, Sri Ulfanita, dan Nila Karmillawaty, putri dari Fatimah, Nurlaisa Kamislisyai dan ayah mertua saya, Abdul Samad Rauf.  
Menulis puisi adalah sebuah hal biasa yang sering dikerjakan oleh orang-orang biasa pula. Menulis puisi bukan hanya harus dilakukan oleh mereka yang biasa disebut sebagai para “penyair.” Kenyataan ini telah menjadikan puisi sebagai sebuah bahasa penyampai yang paling unik sepanjang sejarah literal umat manusia.
            Kenyataan itu pulalah yang sedikit banyak mendorong keluarga kami yang menghuni rumah sederhana bercat putih di lereng bukit di Tanete, Bulukumba, Sulawesi Selatan untuk selalu melakukan hal biasa, yakni menulis puisi. Konsistensi cinta, keakraban dan kehangatan sebagai sebuah keluarga akhirnya dituangkan ke dalam bejana teks sekumpulan puisi.


Apa Kata Mereka

Dalam buku Rumah Putih, Antologi Puisi Serumah, beberapa tokoh sastra melontarkan pendapatnya tentang antologi ini:

“Rumah Putih, Tempat kenangan tumbuh menjadi harapan”, demikian kalimat singkat pada sampul depan yang ditulis oleh DR. Ahyar Anwar almarhum untuk menggambarkan keseluruhan isi buku ini. DR. Ahyar Anwar merupakan sosok penting yang membuka jalan panjang bagi antologi puisi serumah ini. Kalimat tersebut merupakan tulisan terakhir dari almarhum sebelum kembali ke Haribaan-Nya. Rencana semula, almarhum menulis Kata Pengantar di buku ini namun ternyata, takdir berkata lain.

“Sampai hari ini, dalam puisi-puisi liris, repetisi dan pertanyaan retoris masih dipilih banyak penyair sebagai bagian penting bergaya bahasa, tak terkecuali oleh penyair Rumah Putih.
Tampaknya, penyair Rumah Putih, dalam hal permenungan dan elaborasi kedalaman batin, menemukan cara yang manis untuk mengungkapkannya secara metaforis. Jika puisi cenderung memberi pahit, dengan caranya itu, mereka berusaha memberi rasa manis, sedikit-sedikit, agar tidak terlalu getir saat dicerap oleh lidah literal manusia biasa.”
M. Faizi,
Penyair, salah satu pemangku madya di PP Annuqayah, Guluk-Guluk

“Kualitas kumpulan puisi ini tidak hanya terletak pada satu persatu karyanya, tetapi justru dalam spirit penciptaan dan konsistensi sebuah keluarga yang menyisakan waktu untuk menekuni jalan sunyi kesastraan. Salut!”
Aprinus Salam,
Dosen Sastra FIB UGM Yogyakarta

"Keluarga adalah tempat pertama seseorang belajar menjalin hubungan-hubungan antar-manusia . Buku sajak yang ditulis oleh tiga generasi dalam sebuah rumah ini, seperti berupaya memperlihatkan kepada pembacanya bagaimana hubungan-hubungan antar-manusia itu bertumbuh dan berkembang, lalu seolah menjadi "konvensi" yang mengikat mereka dalam sebuah keluarga. Terutama tentang bagaimana memperlakukan orang-orang yang dikasihi dan berharap mendapat perlakuan yang sama. Semuanya menjadi terasa lebih unik dan menggugah sebab mereka bersepakat mengungkapkan hal itu dalam sebuah buku sajak".
Aslan Abidin,
Penyair dan dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar

“Saya tersenyum setelah tahu bahwa antologi ini ternyata diupayakan oleh para penghuni dalam satu rumah. Tiap puisi dalam buku ini memiliki karakter dan keunikannya masing-masing. Dan rupanya tema cintalah yang banyak ditulis. Ini sekaligus membuktikan bahwa cinta dan kekerabatan tiap anggota keluarga di dalam Rumah Putih itu terus ditumbuhkan. Salah satunya adalah menerbitkan buku ini sehingga menjadi ingatan bersama sekaligus sebagai warisan berharga bagi anak cucu mereka.”
Muhary Wahyu Nurba,
Penyair,  Pendiri Komunitas Sastra “Sungai Aksara”

Secara personal, membaca Sajak-Sajak dalam buku ini melontarkan ingatan saya pada jamuan teh terakhir di halaman rumah putih dan membincang cinta bersama Ahyar Anwar dan penghuni Rumah Putih di sebuah siang. Bukan hanya itu, membacanya satu-satu membuat ingatan juga terlontar pada bunga-bunga yang tumbuh di sekelilingnya. Ada banyak jenis bunga dan juga banyak warna. Karena letak rumah yang berada di atas bukit kecil, tentunya ruang untuk melihat ke bawah akan semakin mungkin dilakukan. Sepertinya, hal inilah yang disadari oleh penghuni Rumah Putih untuk melihat dirinya dan dunia yang ada di bawah atau dunia yang ada di luarnya dengan mata sajak. Seperti terhampar dalam sajak Kahayya, Puisi lama di Utara Kota, Negeri Pembuat Perahu, Bira Itu dan sebagainya.
Fenomena lain dan sangat menarik dari buku ini adalah bahwa umumnya jika sebuah antologi puisi diterbitkan secara kolektif oleh sebuah komunitas atau lembaga seni budaya, Buku Puisi ini diterbitkan oleh sebuah keluarga yang menghuni sebuah rumah berwarna putih. Tentunya, imajinasi kita akan diantarkan untuk menemukan sebuah situasi dimana ada sebuah negara kecil yang sempurna di mata penyair, bahwa negara kecil itu dihuni oleh rakyat yang keseluruhannya adalah penyair. Sebuah negara yang tentunya penuh dengan rakyat yang lebih mengedepankan hati dalam menjalankan sistem pemerintahannya. "Sungguh Fenomenal, menggetarkan, menarik untuk menangkap nilai dan semangat penghuni rumah ini dalam sajak-sajaknya".
Andhika Daeng Mamangka,
Penyair, Pendiri Sekolah Sastra Bulukumba (SSB)


Dilaunching Bersama Buku “Ahyar Anwar, Yang Menidurkan dan Membangunkan Cinta”

            Buku Rumah Putih, Antologi Puisi Serumah dilaunching bersama buku “Ahyar Anwar, Yang menidurkan dan Membangunkan Cinta”. Buku yang disebutkan terakhir merupakan kumpulan tulisan "in memoriam Ahyar Anwar" dari puluhan penulis yang merupakan sahabat dan orang-orang terdekat dengan almarhum DR. Ahyar Anwar, budayawan dan sastrawan fenomenal Sulawesi Selatan. Alhamdulillah, saya juga dipercayakan oleh pihak penerbit untuk menulis satu artikel di buku tersebut. Launching digelar di Auditorium Al-Amin Kampus UNISMUH Makassar, Ahad 15 Desember 2013, bertepatan dengan 110 hari wafatnya Ahyar Anwar. Dipadati ratusan ahyarian (sebutan bagi para penggemar Ahyar Anwar) launching juga tentunya dipadati berbagai aksi seni di antaranya: puisi, musik, dan monolog.
            Setelah launching kedua buku ini dapat diperoleh di toko buku terdekat di kota anda. Untuk pemesanan online, dapat menghubungi Rumah Cinta Management, Makassar. Contact Person: 081343790619, 085255771379. Atau bisa menghubungi akun Facebook: Gadis Pelanginya Rumah Putih. (*)

Para Ahyarian berkumpul di Makassar, 15 Desember 2013

Written By Ivan Kavalera on Minggu, 06 Oktober 2013 | 12:33:00 AM

Seorang Ahyar Anwar adalah seutas cinta yang senantiasa terulur hingga batas-batas yang tak terduga. Dia salah satu sungai kata paling artistik di bumi yang pernah dikirimkan Tuhan. Karya-karyanya berdebur dan mungkin kita tidak sadar saat dia ikhlas mencumbui pasir-pasir pantai ketidaksadaran kita. 

Sastra memang telah seharusnya mampu mendobrak apa-apa yang telah ada. Tidak sekedar bertujuan sampai ke muara di mana sastra dinikmati di sana dengan sukacita. Sebelum tiba, seyogyanya sastra memang telah menghantam logika di tengah perjalanan. Semasa hidupnya Ahyar kerap melakukan itu dan tidak mengeluh. Sebaliknya tetap melenguh. 

Sepeninggalnya, karya-karyanya tetap menjitak dengan cantik. Dia layak senantiasa diingat walaupun suatu ketika sebagian dari sastra mungkin terjatuh dan mengaduh!


Bira Itu

Written By Ivan Kavalera on Jumat, 04 Oktober 2013 | 7:12:00 PM




bira itu bunga santigi
tumbuh langka di batu karang,
perjalanan estetik
mendaki mistik
ke bukit puang janggo,
burung-burung camar berkabar
jala-jala nelayan ditebar,
bira itu paha bule
dan pasir putih
berjemur gratis di antara kerang
dan sampah
seramai selangkang
para pelacur
berbau menyengat
dari mulut pejabat,
bira per detik
dikunjungi lalat.



bulukumba, 9 Juli 2013

Berenang di Samudera Puisi, Berenang di Samudera Ilahi

Written By Ivan Kavalera on Rabu, 07 Agustus 2013 | 7:17:00 AM

Inilah geliat sekumpulan anak muda penggila sastra dan salah satu penanda ingatan usia 11 tahun program Ekspresi di RCA 102,5 FM Bulukumba.

Penampilan Dewi, santriwati SSB (dok.rca)
Pada Ahad malam, 4 Agustus 2013 pukul 20.30-23.00 Wita, Sekolah Sastra Bulukumba (SSB) bersinergi dengan Program Ekspresi RCA 102,5 FM menggelar hajatan sastra bertajuk "Tadarus Puisi Ramadhan" bertema "Berenang Di Samudera Puisi, Berenang Di Samudera Rahasia Illahi".



Acara ini disiarkan secara live dari pelataran studio RCA FM Jl Pepaya, No.1 Bulukumba melalui tiga media sekaligus, yaitu RCA 102,5 FM, RCA TV Online di http://www.rca-fm.com/ dan http://rcafm.listen2myradio.com/


Di tengah temaram cahaya beberapa obor, dua buah properti unik berupa radio tua dan vespa tua di depan panggung,  satu persatu santri dan santriwati SSB tampil membacakan puisinya penuh magis. Diselingi pembacaan puisi dari beberapa orang penonton dan dipandu oleh dua host, Andy Satria dan saya sendiri, Ivan Kavalera, suasana semakin mencair dan penuh keakraban ketika pelataran RCA semakin ramai oleh para penonton. Suasana semakin meriah ketika salah seorang pendengar RCA bernama Tantri Wimayoga menelepon dan ikut membacakan puisi.


Salah seorang santri SSB, Try Juanda mengungkapkan bahwa sastra seharusnya merakyat dan berhasil ditunjukkan melalui kegiatan tersebut.
"Setiap perubahan besar di dunia pada dasarnya tidak alpa dari peranan puisi," katanya, Selasa (6/8/2013).

Dewi Arlianti Daeng Makarra, salah seorang santriwati SSB menambahkan, puisi berhasil membuktikan bahwa puisi dapat dinikmati oleh berbaga kalangan. 
"Terbukti kegiatan tersebut dipadati penonton dan didengarkan banyak wara masyarakat. Bukan hanya di Bulukumba tapi juga di berbagai belahan dunia," jelasnya.

Kegiatan Tadarrus Puisi Ramadhan SSB didukung pula oleh Laskar Kelor, Malewa, Butiq Dhika Pandawa, Cempaka Fans Community (CFC), Warkop Teras Bambu dan Temanta' Semua. Selain menghadirkan para pesastra tanah air dan internasional, kegiatan ini juga diikuti oleh umum yang ingin tampil membaca puisi. Beberapa peserta dari luar SSB yang turut tampil baca puisi di antaranya, Edy Manaf (Wakil Ketua DPRD Bulukumba), Arie MD (Ketua CFC) dan Anto, seniman dan pemilik Warkop Teras Bambu.


Nampak hadir pula di tengah penonton, para pesastra Bulukumba di antaranya Anis Kurniawan, seorang cerpenis. Tadarrus puisi berakhir klimaks dengan penampilan penutup dari Direktur SSB, Andhika Daeng Mamangka didampingi aksi teatrikal putranya di sampingnya yang masih berusia satu tahun. (*)


Menyetubuhi Kembali Tradisi dalam Festival Budaya Tu Karama Sampeang Bulukumba

Written By Ivan Kavalera on Rabu, 05 Juni 2013 | 11:13:00 AM

Sekali waktu, kembalilah ke masa silam untuk menyetubuhi tradisi yang esok hari mungkin tak ada lagi. Setelah sukses menghadirkan dua sastrawan dan budayawan nasional,  KH. Zawawi Imron dan Ahyar Anwar pada Mei lalu, di bulan Juni ini kembali sebuah geliat dari gerakan kebudayaan dihelat di Bulukumba. Berlokasi tidak jauh dari kampung kelahiran saya, Palampang. Tepatnya di Desa Karama Sampeang, sahabat saya, Andhika Mappasomba yang  sastrawan dan budayawan muda Bulukumba menjadi salah satu penggagasnya.

Di zaman ini di mana segala sesuatu semakin tanpa bentuk, maka revitalisasi kebudayaan sangat diperlukan. Salah satu revitaliasi yang dapat dilakukan adalah dengan melombakan tradisi masyarakat yang pernah eksis di masa silam. Misalnya permainan rakyat ataupun kegiatan rakyat lainnya semisal berburu.

Sebagai salah satu upaya revitalisasi budaya atau tradisi tersebut, Forum Pemuda Karama Sampeang, bekerjasama dengan DPD KNPI Bulukumba, Laskar Kelor, Sekolah Sastra Bulukumba, dan Sanggar Seni Al Farabi Bulukumba menggelar Festival Budaya Kampong Tu Karama Sampeang Bulukumba dengan menggelar beberapa kegiatan yang diharapkan dapat menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap tradisinya.

Tema kegiatan tersebut adalah "Kami Cinta Kampung dan Adat Kami." Festival ini dihelat pada hari Jumat 21 Juni 2013 sampai dengan hari Ahad 23 Juni 2013 di wilayah Desa Karama, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba.


Berikut Lomba-Lomba Festival yang akan digelar:
1. Lomba Mewarnai Gambar untuk siswa Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar pada hari Jumat, 21 Juni 2013, pukul 08.00 Pagi – selesai
2. Lomba Jalan Sehat, pukul 15. 30 (Sore – selesai) star di perbatasan Desa Swatani-Desa Karama sampai Perbatasan Desa Karama-Desa Bonto Haru lalu ke Finish di Lapangan Makkantu Pajjenekang (Pa’lappassang toayya-Dusun Katangka Desa Karama)
3. Ritual Art (Pementasan Seni) oleh Sanggar Seni Budaya Al Farabi Bulukumba di Sungai Mannyoleng (Depan Lapangan Pa’lappasang Toayya)
4. Pementasan Seni; Malam Usai Shalat Isya
5. Foto dan Film aktivitas desa
6. Lomba Cokki-Cukke digelar pada hari Sabtu, Pukul 09 Pagi- Selesai di Lapangan Pa’lappassang Toayya (Makkantu Pajjenekang)
7. Lomba Melempar Tombak (Ammoke) digelar pada pukul 15. 00 (Sore) Sampai selesai (Lurayya-Sekitar Makam Tau Karama’a ri Sampeang)
8. Penerimaan Hadiah dan Pementasan Seni serta Pemutaran Film Foto Kegiatan
9. Pada hari Ahad, digelar kegiatan Ammaurang Bahi (Berburu Babi) bersama Masyarakat Sampeang. 


Saatnya memulai dari kampung kecil kita masing-masing. Revitalisasi kebudayaan bermula dari sana.(*)

Penjaga Bumi di Bulukumba Bawa Ma'jaga Lino ke International Performing Art

Written By Ivan Kavalera on Jumat, 12 April 2013 | 3:51:00 AM

Dimulai dari semesta kesadaran menjaga bumi, para penjaga bumi dari Bulukumba melakukan kontemplasi di tengah alam. Kelahiran, kematian, bencana, realitas zaman dan perjuangan manusia diurai menjadi sebuah karya monumental berjudl "Ma'jaga Lino". Inilah sebuah ritual ribuan tahun lalu di Bulukumba yang kemudian dipindahkan ke dalam rekonstruksi seni teater bernama Ritual Art Performance.

Sanggar Seni Al Farabi Bulukumba akan mementaskan "Ma'jaga Lino" karya Ichdar Yeneng Al Farabi, teaterawan muda Bulukumba di International Performance Art "Taman Srawung Seni Segara Gunung" Musium Manusia Purba Sangiran, Sragen, Jawa Tengah pada tanggal 18 dan 22 April 2013.

Salah satu pementasan Al Farabi (Foto: Ichdar Yeneng Al Farabi)
Dalam bahasa Bugis-Makassar, Ma’jaga Lino artinya 'menjaga bumi'.  Pementasan teater dengan genre Ritual Art Performance memang identik dengan Al Farabi, sanggar seni yang telah berdiri sejak enam tahun lalu di Bulukumba.

Sebagai bagian dari  pra-kondisi termasuk meminta restu dari masyarakat dan pemerintah Bulukumba, Al Farabi lebih dulu menggelar karya mereka di Gedung PKK Kabupaten Bulukumba, Kamis malam (11/4/2013). Dengan dihadiri ratusan penonton, Bupati Bulukumba melepas secara resmi tim kesenian Bulukumba ini ke Jawa Tengah untuk pentas di sebuah ajang internasional.

Berikut ini sejarah singkat Sanggar Seni Budaya (SSB) Al-Farabi Bulukumba, dikutip dari laman mercusuarnews.com

Al-Farabi lahir  sebagai sebuah wadah untuk mengasah, menampung, dan menyalurkan bakat generasi muda di bidang seni dan budaya baik itu seni tradisional maupun modern.

SSB AL-Farabi berdiri pada tanggal 5 agustus 2007 oleh sekelompok pemuda yang di motori oleh Ichdar Yeneng alias Ichdar Al Farabi yang selanjutnya dipercayakan untuk menjadi ketua pada saat Musyawarah Besar kelompok tersebut.

SSB Al-Farabi-Bulukumba terdiri dari empat divisi kekaryaan diantaranya divisi Teater, Tari, Penulisan, Kerajinan (Rupa). Seiring berjalannya waktu, SSB Al-Farabi telah mementaskan karyanya di berbagai even, baik yang dilaksanakan sendiri oleh organisasi maupun Pemerintah Kabupaten dan pihak-pihak lain diantaranya :
1. Festival Musik Pelajar yang diadakan tiap tahun sejak berdirinya SSB Al-Farabi
2. Pagelaran seni Kolaborasi seni modern dan tradisi, 10 september 2007 di Kecamatan Rilau Ale, Bulukumba
3. Berpartisipasi pada hari jadi Bulukumba tahun 2008, mementaskan keseniaan tradisional Orkes Turiolo
4. Pementasan teater SANG PEWARIS sutradara Ichdar Yeneng pada bulan maret 2008 di lapangan pemuda Bulukumba, Pertunjukan Seni, Salam lebaran dan Halal Bi Halal
5. Pelaksana dan pengisi acara Indonesia Bangkit tahun 2008
6. Ketua umum SSB Al-Farabi ( Ihdar Yeneng ) terpilih mewakili Sul-Sel pada ajang temu Komposer Muda se Indonesia di Bandung tahun 2009
7. Pementasan Teater Sang PewARIS 2, tahun 2009 di lap. Pemuda Bulukumba
8. Pementasan Tari kreasi tradisi “ Papanambe “ dan “ Pajaga Bine “ koreografer Erna NIngsih SPd, agustus 2009
9. Pementasan seni Akhir tahun “ Setangkai Mawar Untuk Bulukumba “ 2009
10. Pengisi acara di ajang Pesta Rakyat Simpedes II dan III yang diadakan BRI unit Bulukumba
11. Pementasan seni pertunjukan “Ode Bulukumba-Ku” tesk dan sutradara Ihdar Yeneng dipentaskan pada puncak peringatan hari jadi Bulukumba, Februari 2010
12. Pementasan teater jalanan “ Kepada Sang Pembunuh Seni budaya “ april 2010, di bundaran Pinisi Bulukumba
13. Seni pertunjukan “ Bulukumba Damai “ Maret tahun 2010, Bundaran Phinisi Bulukumba
14. Pementasan seni pertunjukan “ Zhimphony Tanah Merdeka “ dipentaskan pada acara Resepsi Kenegaraan HUT RI ke 65, di halaman rujab Bupati Bulukumba
15. Pertunjukan seni ritual Appa Sulapa ri salo Bijawang ( mappano ri wae ) sejak tahun 2011.
16. Pertunjukan seni massal Spirit of Dato Tiro pada penutupan STQ tingkat Provinsi Sulsel
17. Emergenci Culture ( kepada sang pembunuh seni budaya ) I, II tahun 2011 2012
18. Kidung Senja Pantai Bira ( ritual art ) 2011
19. Pertunjukan Musik Harmoni Bulukumba pada puncak hari jadi Bulukumba 2012
20. Kolaborasi kerja Perkampungan Budaya Bersama Laskar Kelor dalam Festival Pinisi tahun 2011 dan 2012
21. Pementasan "Sejarah Pengislaman Masyarakat Bulukumba oleh dato Ri Tiro" dalam Peringatan 605 tahun Dato Tiro, di Hila-Hila Bontotiro, 2013.

Itulah sebahagian karya yang telah dihasilkan oleh Sanggar Seni Al-Farabi dalam menggeliatkan seni budaya dan memberi makna bagi lingkungannya. (*)

Popular Posts

 
Copyright © 2011. ivankavalera.com . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template Design by Creating Website. Inspired from Metamorph RocketTheme